Desa Wisata Krakitan


Krakitan, sebuah desa yang terletak di kota Klaten provinsi Jawa Tengah.Posisi desa ini sangat strategis dan mudah dijangkau dari kota Klaten. Desa yang berada di selatan kota klaten ini, merupakan desa yang kaya akan keindahan alamnya.Hal ini dikarenakan Krakitan di kelilingi oleh pegunungan-pegunungan hijau yang menyejukkan setiap mata yang melihat.

Ditengah desa ini terdapat sebuah rawa yang dikenal dengan nama Rawa Jombor. Keberadaan Rawa Jombor menjadikan nilai plus dan daya tarik tambahan bagi kegiatan wisata di Desa Krakitan. Ditambah lagi dengan berdirinya warung-warung apung disekitaran Rawa. Keberadaan rawa ini juga tidak lepas dari sejarah panjang yang mengawali munculnya rawa ini serta cerita mistis yang membalutnya mulai dari istana bawah laut, bulus(penyu) keramat,dll.
Desa krakitan memiliki sejumlah dusun yang sangat berpotensi untuk menjadi sarana wisata belajar. Terdapat berbagai macam potensi seperti, peternakan, perikanan,kesenian, kerajinan batik, gerabah, seni ukir kayu, perkebunan atau holtikultura,dll. Potensi-potensi tersebut sangat cocok untuk menjadi sarana pembelajaran bukan hanya bagi para siswa sekolah tapi juga masyarakat pada umumnya yang ingin secara langsung mempraktekkan dan mengenal cara-cara bertani, berternak,dll. Lokasi desa yang diapit oleh bukit-bukit kapur, juga dapat menjadi sarana bagi mereka pecinta panjat tebing, Tracking, dan mereka yang tertarik untuk memepelajari mengenai berbagai macam batuan, seperti batuan beku, sedimen,dll.
Keadaan demografis desa ini juga sangat menarik. Mulai dari keramahan setiap penduduknya, semangat gotong royong yang tinggi,dan sikap religius warganya. Sikap penduduk yang ramah dan terbuka bagi masyarakat luar ataupendatang menambah rasa nyaman bagi para wisatawan yang datang. Dengan demikian, wisatawan diharapkan dapat merasakan suasana desa yang akrab serta mendapat pengalaman yang berbeda saat berwisata di Desa Krakitan.
Untuk itu, Desa Krakitan menawarkan sejumlah paket wisata bagi wisatawan yang ingin datang atau berkunjung ke desa ini. Paket-paket ini tidak sekedar menawarkan hiburan semata tapi juga menawarkan kegiatan wisata yang dapat menjadi sarana pendidikan sekaligus hiburan.

Video dan Buku Panduan Pariwisata Desa Krakitan

Dalam rangka menunjang pariwisata Desa Krakitan maka dibuatlah sebuah buku dan film yang mengupas mengenai Desa Krakitan
                   1. Film " Krakitan,Sebuah Jejak Perjalanan"






                     2. Buku
                          Untuk Buku Panduan Wisata Krakitan dapat di download
                          Disini



Kerajinan

Kerajinan Batik
Batik tulis
Batik tulis
Batik merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang yang sangat bernilai luhur dan tak lekang oleh zaman. Di beberapa dukuh seperti Jombor,Drajad, Tawang terdapat perajin yang membuat batik secara tradisional. Tentu proses ini sudah sangat jarang ditemui di tempat lain. Dalam hal ini, pengunjung bisa juga ikut mencoba proses membatik sebuah kain. Batik yang digunakan masih sangat asli, menggunakan canting dan malam sebagai alat bantu membatik, corak yang dipakai adalah corak Solo ataupun Yogyakarta Selain itu bisa juga membeli langsung dari perajinnya yang tentu saja harganya lebih murah dari harga pasar.

Kerajinan Gerabah
Proses pembuatan gerabah
Gerabah
Pengunjung dapat membeli kerajinan gerabah di desa Jombor. Selain itu, apabila ingin berpartisipasi dalam pembuatan gerabah pengunjung dapat pula mencoba melakukan. Jika ingin lebih sederhana, pengunjung dapat juga ikut menghias gerabah, yang nantinya bisa menjadi kenang-kenangan untuk dibawa pulang. 

Kesenian Daerah

1. Laras Madya
Laras madya merupakan salah satu kesenian Jawa-Islam yang berada di desa Krakitan. Kesenian ini masih berkembang di beberapa dukuh, seperti dukuh Jombor, dan Selorejo. Kesenian Laras Madya dikenal sebagai salah seni sholawatan Jawa dan termasuk dalam seni karawitan. Disebut sebagai seni sholawatan karena syair-syair dalam kesenian Laras Madya mengandung nilai-nilai ajaran Islam. Kesenian ini berkembang pertama kali di Surakarta pada tahun 1908. Pertunjukan kesenian ini memakai pedoman sebuah buku yang disebut Kitab Wulang Reh yang berbahasa Jawa, karya Sri Sunan Pakubuwono ke IV di Solo. Nyanyian disampaikan dalam bahasa Jawa dan berisi nasehat ataupun petunjuk tentang kebajikan dan nilai-nilai Islam.

Setiap minggunya, kelompok kesenian ini menggelar latihan di salah satu rumah warga. Untuk menyelenggarakan pertunjukan ini tidak diperlukan tempat khusus.Ruang di dalam rumah para warga ataupun penduduk yang menyelenggarakannya sudah dianggap memadai. Alat musik yang dipakai selama terbang seperti pada Slawatan Maulud, yaitu kendang,  peking (dua belah  saron  pada  gamelan  yang  terdiri dari dua nada), dan kentongan kecil.

2. Campur Sari
Campur sari merupakan salah satu kesenian campur sari yang beranggotakan kelompok laras madya dan ibu-ibu. Kesenian ini berkembang di dukuh Jombor. Setiap minggunya, kelompok ini menggelar latihan secara rutin. Para pengunjung dari luar daerah juga dapat mengikuti kegiatan ini.

3. Reok
Reok merupakan salah satu kesenian andalan di dukuh Jombor. Kesenian ini juga sering diundang untuk mengisi acara-acara khusus di beberapa wilayah sekitar. Kesenian ini merupakan salah satu pengembangan dari kesenian laras madya. Kegiatan ini juga memberi kesempatan bagi pengunjung untuk mempelajari kesenian Reok secara lebih dalam.




4. Karawitan
 Karawitan merupakan kesenian musik gamelan. Seni ini masih tetap dijalankan di dukuh Selorejo. Setiap seminggu sekali beberapa warga berkumpul untuk bermain kesenian karawitan. Selain karena musik sebagai penghibur hati, kegiatan ini merupakan salah satu langkah untuk melestarikan kebudayaan dan kesenian karawitan agar tidak menghilang.




 
 

5. Rebana / Sholawatan
Rebana/Sholawatan merupakan salah satu seni sholawatan yang berbeda dengan laras madya. Seni musik yang terdapat di dukuh Jombor ini didukung oleh keadaan demografis penduduknya yang mayoritas muslim, maka kelompok ini sering menggelar latihan secara regular, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan maupun bulan puasa. Pengunjung dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. 


Asal-Usul Rawa Jombor

Rawa Jombor merupakan sebuah rawa yang terletak di tengah Desa Krakitan. Rawa ini dikelilingi oleeh bukit-bukit yang sebagian besar merupakan pegunaungan kapur. Rawa Jombor beerjarak kurang lebih 8 km dari kota Klaten. Rawa ini memiliki luas 198 ha dengan kedalaman meencapai 4,5 m dan meemiliki daya tampung air 4 juta m3. Tanggul yang mengelilingi rawa ini sepanjang 7,5 km dengan lebar tanggul 12 m.
 Daerah Rawa Jombor dahulu sebenarnya merupakan dataran rendah yang berbeentuk cekungan luas dan dikelilingi oleh barisan pegunungan. Hal ini menyebabkan dataran rendah tersebut sering tergeenang aiir, baik pada saat musim hujan maupun musim kemarau. Daerah tersebut dinamakan Rawa Jombor karena daerah tersebut sering tergenang air sehingga disebut rawa dan terletah di Desa Jombor yang kini berubah menjadi Desa Krakitan. Genangan air ini akan semakin tinggi saat musim hujan karena dari sebelah barat laut terdapat sungai yang bernama Kali Ujung dan kali Dengkeng. Kedua sungsi tersebut selalu meluap saat musim hujan dan selalu mengarah ke Rawa Jombor. Luapan air ini membuat Rowo Jombor semakin meluas dan menggenangi rumah warga serta sawah yang berada disekelilingnya sehingga banyak warga yang terpaksa dipindahkan ke tempat yang lebih aman di tepi rawa atau tegalan disekitarnya.
Pada tahun 1901, Sinuwun Paku Buwono ke-X bersama dengan pemerintah belanda mendirikan pabrik gula Manisharjo  di daerah Pedan, Klaten. Dibukanya pabrik gula ini membuat seluruh lahan pertanian di daerah Pedan tersebut ditanami dengan tanaman tebu. Luasnya lahan yang digunakan untuk perkebunan tebu tersebut meningkatkan jumlah kebutuhan air untuk irigasi. Sehingga Sinuwun Paku Buwono ke-X dan Pemerintah Belanda yang mengetahui keberadaan Rawa Jombor dengan jumlah air yang melimpah berencana untuk membuat saluran irigasi dari Rawa Jombor menuju areal perkebunan tebu tersebut. Pembangunan saluran irigasi tersebut dimulai pada tahun 1917 dengan cara membuat terowongan sepanjang 1 km menerobos pegunungan yang mengelilingi rawa serta talang air diatas kali Dengkeng. Pekerjaan ini akhirnya selesai pada tahun 1921 dan setiap tahun Sinuwun Paku Buwono ke-X selalu mengunjungi Rawa Jombor walaupun hanya untuk sekedar naik perahu atau melihat pemandangan.
Pada saat penjajahan Jepang, pabrik gula Manisharjo yang sebelumnya dikelola oleh pemerintah Belanda menjadi bangkrut. Pada tahun 1943-1944, oleh pemerintah Jepang, Rawa Jombor kemudian dijadikan waduk dengan dibangunnya tanggul disekeliling rawa dengan memanfaatkan tenaga kerja paksa (romusha). Sebelum dibangun tanggul, luas rawa jombor sekitar 500 hektar sementara setelah dibangun tanggul dengan lebar 5 m maka luasnya menjadi 180 hektar.
Setelah penjajahan Jepang berakhir Rawa Jombor tetap dimanfaatkan sebagai waduk untuk menampung air irigasi bahkan pada tahun 1956, pemerintah kota Klaten menetapkan Rawa Jombor sebagai tujuan wisata dengan melakukan pembangunan tempat peristirahatan untuk pengunjung. Pada tahun 1967-1968, setelah adanya pemerintahan Orde Baru, pemerintah kota Klaten memanfaatkan para tahanan politik (tapol) untuk melakukan perbaikan Rawa Jombor. Perbaikan tersebut dilakukan dengan memperlebar tanggul yang awalnya hanya 5 meter menjadi 12 meter. Pekerjaan tersebut selesai dalam 7 bulan dengan menyerap tenaga kerja tapol sebanyak 1700 orang

Museum Tani Indonesia


Museum Tani Indonesiaa terletak di Dukuh Selorejo, Desa Krakitan. Museum ini didirikan atas gagasan Prof. Dr. Suratman, M.Sc (Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada) dan Suparlan Tono Sumarto. Letak Museum tersebut tepatnya berada pada rumah Bapak Suharto/Sri Mulyani diatas tanah seluas kurang lebih 2 ha. Museum ini memiliki berbagai koleksi benda-benda yang berhubungan dengan dunia pertanian di Indonesia, seperti alat-alat tani baik dari dalam negeri maupun luar negeri, foto tani baik dari dalam negeri maupun luar negeri, contoh tanah dan air pertanian, dan hama-hama tanaman tani.